Kegelisahan

Rangkaian Kegelisahan

Tahukah kamu bahwa kita itu hanya perlu untuk tersenyum dalam menatap hari. Dalam menjalani nya, emosi kadang berubah-ubah. Kadang senang, sedih, marah, dan lain-lain. Hal itu wajar-wajar saja toh kita hidup ini.

Tak wajar itu ketika kamu senang, sedih, marah dan luapan emosi yang itu-itu saja. Aneh rasanya jika kamu marah saja selama satu hari, coba deh bahagia gitu.

Coba bayangkan, kamu di dalam kamar yang kamu dengar hanya suara-suara buku yang perlu dibaca, kipas angin yang menghembuskan kesejukan, laptop yang ingin terus dimainkan, keyboard yang ingin di tekan-tekan, hingga air yang di dalam galon ingin keluar untuk diminum.

Mungkin saja kamu tak sadar, perlahan tapi pasti waktu akan terus berjalan sendirinya. Jika kamu merasakannya ya, itulah dunia.

Waktu akan terus berjalan tanpa perlu kamu pinta, dan hal itu menjadi sebuah kepastian. Tak bisa juga kamu bilang “stop”, siapa kamu? Hahaha. Perlu kamu garis bawahi adalah, kamu harus bergerak, go move on dude, do something.

Kehidupanmu saat ini itu bukan tentang dirimu sendiri tapi juga menyangkut keluargamu, ya walaupun kinerja dan bakti mu terhadap keluarga belum apa-apanya. Tapi itulah proses yang bisa kamu lakukan. Do something.

Misalnya membaca buku, selembar dua lembar sudah cukup, tapi tiap jam. Hehehe. Atau ngak ya ngapain kek, kerumah teman. Ngobrol ngalur ngidul, atau cerita bual.

Aku tau kok yang dipikirkan kamu, pasti tentang nikah kan? Kapan nih. Nikah mulu, yang ditanyain yang lain kek? Sahur apa kamu? Gitu, seenggak nya ada perhatian.

Perhatian itu cukup penting loh, walaupun hal-hal sederhana gitu. Ngak percaya? Coba aja perhatikan hal sederhana ke wanita yang kamu suka. Kalaupun dia ngak nyadar sekarang tapi nanti. Dia akan mengingatmu.

Perihal ingat-mengingat, aku ingat bahwa kita pernah punya ingatan tentang Ramadhan tahun lalu, ia Ramadhan. Banyak hal yang kita obrolin, dan janjikan tapi semua sirna dengan keinginan satu pihak. Waktu itu sudah mau dekat lebaranĀ  dan tiba-tiba pergiĀ  aja gitu.

Ceritanya mau mencari yang lebih baik, nyatanya, sampai sekarang ngak dapat yang lebih baik. Hahaha. Bukan tak mungkin cuma rasa itu sudah berkurang, ngak semangat aja gitu. Wkwkw. *dalam hati “Mampus”.

Bagai banjir yang datang, rasa sesal itu baru datang sih. Aneh, aja hampir setahun baru merasa. Tapi setelah aku berdamai denganmu, mungkin. Ntah kenapa sifat baikmu padaku kali ini, membuatku merasa kecewa dengan diri sendiri.

Tapi yaudalah, mungkin dengan makan nasi goreng dini ini perasaan menjadi baik.

Semoga aja sih.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published.