Malam Telah Tiba

Aku adalah angin saat orang-orang sibuk dengan genggamannya.

Tak heran, jika gelap dan ributnya panggung itu menjadi teman dan taman bermain bagi orang-orang sepertiku.

Lantas, disanalah aku menjadi diri sendiri dan menjadi manusia seutuhnya.

Aku bisa bernyanyi, berdiam diri, berjoget, bersyair, apapun yang ingin aku lakukan tak ada yang memarahi ataupun menghardik.

Lantas, orang-orang sepertiku harus memusuhi malam? Ah, sepertinya tidak.

Aku bersyukur, angin dan malam menjadi teman.

Sebab, disanalah aku menjadi diri sendiri dan menemukan betapa indahnya Ciptaan-Nya.

Malam, juga penentu bagi- sebagian orang untuk bertahan hidup.

Malam juga lah, orang-orang yang senang dan patah hati mengadu kepada Tuhan-Nya.

Nona

Menolak lupa kehadiranmu, saat kau berbahagia. Saat itu, aku pernah berjanji dalam hati, suatu saat nanti kita akan ketemu lagi.

Nona,

Aku yakin kau baik-baik saja saat ini, dalam menjalani keseharianmu. Sudah berapa purnama kita tak bertemu. Tapi tak apa, saat ini kita memang jauh namun masih memandang langit yang sama.

Nona,

Saat itu, aku bahagia melihat senyummu yang tampak bahagia. Walaupun tak lama aku bertemu dan berbincang denganmu. Aku senang dan berbunga-bunga bak semerbak angin yang membawa hujan membasahi ladang gandum.

Nona,

Saat itu, aku belum sepenuhnya mengenalmu hanya ada rasa saja. Tapi, selang beberapa waktu aku masih menjadi asing dihidupmu. Mungkin saat ini pun sama, tapi tak apa.

Nona,

Jikalaupun kau tak bersamaku nanti, aku tetap akan bahagia. Karena kita tetap menjadi asing diantara lautan bintang-bintang yang menyinari kota kita.

Nona,

Sekian.