Hitam, Putih dan Sedikit Cahaya

Cerita itu hanya bisa diceritakan kembali, tak bisa diulang. Apalagi direka ulang, tak mungkin.

Cerita itu hanya bisa didengar, tak pantas rasanya kita berandai-andai akan kenangan itu. Tek elok rasanya.

Cerita itu akan menjadi cerita yang utuh apabila kita saling bertemu dan tertawa bersama, menertawakan cerita itu. Hahaha..

Ini bukan puisi, apalagi cerita.

Kita hanya sebatas spasi diantara kata-kata.

Bukan untuk menyambung kata tapi hanya sekedar pemisah dari satu kata ke kata yang lain.

Jika kamu merasa, bahkan tanpa rasa sedikitpun. Itu baik untukmu, dan bahkan aku mengizinkan hal itu.

Sebagai seorang pencerita aku hanya bisa menceritakan, tanpa melebihkan.

Jika pun ada, ya itu hanya bumbu-bumbu manis untuk menjawab kepastian yang ada.

Agar kita saling tak memangku beban yang seharusnya tak datang saat ini.

Pertama-tama, mungkin kita akan tegang. Selanjutnya akan terbiasa hingga kita tertawa bersama.

Dimeja itu aku melihat kembali senyum bahagiamu, selepas kita bercerita banyak tentang orang disekeliling kita. Akan ketidaktahuan mereka dengan apa yang terjadi.

Akhirnya kita bersepekat bahwa, biarkan saja mereka seperti itu. Ntah sampai kapan, keinginan mereka itu. Toh yang menjalani kita-kita ini, wkwkw.

Sekian..

A Litte Bit of Happiness

Rabu, 4 Oktober 2019.

Sore itu, chat yang ditunggu masuk. Adikmu sudah lahir, bang. Laki-laki kata bapak.

Bahagia sekali rasanya, adik yang tlah lama kudambakan hadir ditengah keluarga kecil kami.

Dia adikku, adik yang belum pernah kulihat wajahnya. Yang jelas, ia tampan sepeti diriku.

Dik, ini nasihat dari abangmu.

Kamu harus kuat, sabar, dan pandai mengatur emosi.

Dunia itu tidak terlalu baik, kepada orang-orang yang enggan ber-empati kepadanya.

Kamu harus ingat pula, bahwa keluarga adalah sebaik-baiknya tempat untuk pulang.

Tunggu abang dirumah ya. Nanti, kita main kelayang bersama.

Malam Telah Tiba

Aku adalah angin saat orang-orang sibuk dengan genggamannya.

Tak heran, jika gelap dan ributnya panggung itu menjadi teman dan taman bermain bagi orang-orang sepertiku.

Lantas, disanalah aku menjadi diri sendiri dan menjadi manusia seutuhnya.

Aku bisa bernyanyi, berdiam diri, berjoget, bersyair, apapun yang ingin aku lakukan tak ada yang memarahi ataupun menghardik.

Lantas, orang-orang sepertiku harus memusuhi malam? Ah, sepertinya tidak.

Aku bersyukur, angin dan malam menjadi teman.

Sebab, disanalah aku menjadi diri sendiri dan menemukan betapa indahnya Ciptaan-Nya.

Malam, juga penentu bagi- sebagian orang untuk bertahan hidup.

Malam juga lah, orang-orang yang senang dan patah hati mengadu kepada Tuhan-Nya.

Nona

Menolak lupa kehadiranmu, saat kau berbahagia. Saat itu, aku pernah berjanji dalam hati, suatu saat nanti kita akan ketemu lagi.

Nona,

Aku yakin kau baik-baik saja saat ini, dalam menjalani keseharianmu. Sudah berapa purnama kita tak bertemu. Tapi tak apa, saat ini kita memang jauh namun masih memandang langit yang sama.

Nona,

Saat itu, aku bahagia melihat senyummu yang tampak bahagia. Walaupun tak lama aku bertemu dan berbincang denganmu. Aku senang dan berbunga-bunga bak semerbak angin yang membawa hujan membasahi ladang gandum.

Nona,

Saat itu, aku belum sepenuhnya mengenalmu hanya ada rasa saja. Tapi, selang beberapa waktu aku masih menjadi asing dihidupmu. Mungkin saat ini pun sama, tapi tak apa.

Nona,

Jikalaupun kau tak bersamaku nanti, aku tetap akan bahagia. Karena kita tetap menjadi asing diantara lautan bintang-bintang yang menyinari kota kita.

Nona,

Sekian.